Skip navigation

Akibat angkara murka nafsu serakah, manusia tidak mempedulikan siapa saya sebenarnya dan siapa orang lain sebenarnya. Apakah saya berbeda asal usulnya dengan orang lain. Mari kita tundukkan kepala dan berpikir sejenak, bahwa semua manusia adalah bersaudara, dan berasal dari jiwa yang satu. Renungan sejenak ini besar hikmahnya dan akan mendorong adanya perasaan saling terikat, saling berhubungan, saling bantu, dan bersaudara di antara seluruh umat manusia, di Timur dan di Barat, di Utara dan di Selatan, karena mereka itu semuanya adalah famili yang terikat oleh hubungan kekeluargaan.

Sejak terciptanya manusia pertama, Al Qur’an telah menceritakan kejadian asal manusia adalah dari jiwa yang satu : “Hai manusia! Bertaqwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu dari jiwa yang satu, dan dari padanya diciptakan-Nya pasangannya, dari keduanya itulah tersebar luas laki-laki yang banyak jumlahnya dan wanita. Bertaqwalah kamu kepada Allah yang dengan nama-nama-Nya kamu saling meminta, dan ingatlah kewajibanmu kepada kaum kerabat”(QS. An Nisa:1)

Allah SWT menciptakan manusia penghuni jagat alam ini dari bentuk atau jiwa yang satu, yakni diawali penciptaan Adam as dengan kalimat “Kun fayakuuunu” maka jadilah Adam. Dari Adam seorang diri Allah menciptakan lagi seorang perempuan sebagai lawan jenisnya yang disebut ”Hawa”. Penciptaan Hawa lewat cara pemisahan dari Adam, hampir sama dengan yang dikatakan oleh ilmu hayat; makhluk primitive berkembang biak dengan cara lewat pemisahan. Penciptaan dan perkembangan selanjutnya seperti dalam sejarah kuno memberitakan kepada kita bahwa Hawa dan Adam melahirkan Qabil dan Habil serta beberapa orang laki-laki dan beberapa perempuan; lalu anak laki-laki dikawinkan dengan anak perempuan secara silang yang akhirnya menjadi berkembang biak menjadi banyak. Dari hasil perkawinan Adam dan Hawa serta keturunannya itulah akan melahirkan janin-janin yang diproses secara kimiawi dari saripati tanah seperti yang dijelaskan dalam surat Al Mu’minun ayat 12 : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (sulaalah) yang berasa) dari tanah.

Masih dalam surat yang sama ayat selanjutnya menyebutkan “Kemudian Kami jadikan saripati itu dari mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. Proses ini adalah sunnatullah dalam kehidupan manusia seperti halnya minum air, makan nasi, makan buah-buahan dan lain sebagainya dari sari-sari atau zat-zat inilah Allah menciptakan sperma dan ovum yang menjadi bakal calon janin.

Berkenaan dengan ayat tersebut, Ibnu Qayyim mengatakan: “Allah Maha Kuasa dapat mengeluarkan air mani itu dari antara tulang sulbi dan tulang dada, air mani itu keluar dalam keadaan tunduk kepada kekuasaan-Nya dan ta’at kepada kehendak-Nya, dalam keadaan hina dengan menundukkan diri untuk mengalirkan pada jalan-jalan yang sempit dan mengalir melalui saluran yang beraneka ragam. Menurut Qatadah dan ahli tafsir lainnya kata Al Insan dalam ayat tersebut berarti manusia, yaitu Adam as, sedangkan Ibnu Abbas menafsirkan kata sulaalah sebagai anak Adam yaitu manusia secara umum. Penafsiran ini didasarkan atas arti genetik sulaalah di sini berarti air putih yang disebut air mani yang keluar dari sesuatu.

Menurut Dr. Maurice Bucaille seorang dokter berkebangsaan Perancis mengatakan: “bahwa kata sulaalah dalam bahasa Arab berarti; sesuatu yang disaripatikan dari benda lain”. Dan sebagaimana yang kita pahami, dalam surat lain Al Qur’an menyebutkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang diekstrasi dari tanah; hal ini dapat dipahami sebagai cairan sperma. Menurut pengetahuan modern bahwa unsur yang aktif dari sperma adalah sesuatu organisme disebut spermatozoon. Ini dapat dipahami bahwa: “saripati tanah” tersebut mengacu pada berbagai unsur kimia yang terdapat dalam tanah, disarikan dari air, adalah unsur pertamanya, menjadi sperma.

Ayat tersebut juga telah dibuktikan kebenarannya oleh sarjana besar ilmu biologi berkebangsaan Amerika, Lorens Henderso, mengatakan: “Sudah pasti, lahirnya kehidupan yang pertama kali pasti di salah satu saluran air di bagian tanah hangat, atau di antara gundukan buih di tanah itu atau dari lapisan buih di atasnya”. Adapun bagaimana munculnya kehidupan dari sesuatu yang tidak hidup itu merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Kemudian para sarjana dari negara Perancis, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Belgia, Cekoslovakia, Jepang, Mexico, Norwegia, Polandia, Venezuela, India, Nigeria, dan Senegal berkumpul di Moskow pada tahun 1964 berhasil mengeluarkan sebuah deklarasi yang amat penting di antaranya tercantum pasal 1, yang menyebutkan bahwa: Semua manusia yang hidup dewasa ini berasal dari satu jenis, yaitu jenis manusia. Semuanya adalah berasal dari keturunan dan berasal dari silsilah yang sama.

Semua pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesamaan pendapat berdasarkan penelitian ilmu pengetahuan moder bahwa asal penciptaan manusia berasal dari jiwa yang satu seperti yang telah disebutkan dalam surat An Nisa ayat 1. Pendapat tersebut juga sekaligus membantah teori Evolusi Darwin tentang asal asul manusia dari kera. Lebih lanjut proses penciptakaan manusia, dijelaskan dalam surat Nuh: 17 “Dan Allah sungguh telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan”.

Perkembangan kejadian dan proses penciptaan manusia itu melalui tahapan-tahapan dan evolusif. Perkembangan evolusi ini mulai dari tingkat yang sederhana menuju ke arah kesempurnaan. Setiap tingkat merupakan makhluk tersendiri yang mempunyai kode genetik yang berbeda, sehingga keturunan dari jenis tertentu akan sama dengan yang menurunkannya, karena mewarisi kode genetik yang sama. Kebenaran ayat ini didukung oleh sain melalui hasil penelitian yang menunjukkan bahwa proses dan perkembangan perubahan makhluk dari tingkat ke tingkat yang lebih tinggi disebabkan oleh mutasi pada kode genetik dan kelamin. Berkenaan dengan ayat-ayat penciptaan manusia yang terdapat dalam Al Qur’an, secara singkat dapat dikatakan bahwa manusia berasal dari :

1. Air (QS. Al Anbiya: 30)

2. Tanah liat yang kering (QS. Al Rahman: 14)

3. Saripati/ektra yang berasal dari anah (QS. Al Mu’minun: 12)

4. Suatu zat renik atau turab (QS. Al Hajj: 57)

Hal ini berbeda dengan teori Evolusi Darwin bahwa proses kejadian manusia dari tingkat ke tingkat lebih tinggi yang diakibatkan oleh proses pengaruh lingkungan di mana ia berada. (Dodo_betha)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: